Positif

Diposting oleh GKPB - Garut

Kehidupan kita selalu diperhadapkan kepada dua pilihan, yaitu positif atau negatif, berkat atau kutuk, kehidupan atau kematian. Semua orang pasti ingin memilih hasil yang positif daripada negatif. Namun kehidupan yang kita jalani tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kadang-kadang hal-hal yang negatif menurut kita, ternyata dapat menghasilkan hal positif (Roma 8:28). Yang bisa menentukan hasil yang positif atau negatif bagi kita ternyata bukanlah keadaannya, namun sikap kita dalam menghadapinya.

Yeremia dalam pasal 17:8 mengatakan walau ia menghadapi tahun penuh kekeringan namun ia tidak kuatir, karena ia percaya kepada Tuhan dan telah menanamkan akar pohon kehidupannya kepada Tuhan. Jikalau Tuhan mengijinkan tahun kekeringan menimpa kita, bagaimanakah sikap positif yang harus kita kembangkan?

  • Mengucap Syukur ( Efesus 5:20 dan 1 Tesalonika 5:18 )Kita harus selalu senantiasa mengucap syukur atas apapun yang terjadi di dalam kehidupan kita. Di saat keadaan sulit, lihatlah kehidupan kita, temukanlah kebaikan Tuhan yang telah Ia lakukan di dalam hidup kita, dan mulailah mengucap syukur. Kuasa pengucapan syukur akan membuka pintu bagi kita untuk memperoleh apa yang tidak kita miliki, dan melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan.
  • Tetap Memiliki Pengharapan ( Ibrani 6:19 )Kuatkanlah kepercayaan kita kepada Tuhan terutama di saat kita lemah menghadapi badai hidup. Pengharapan itu seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Pengharapan kepada janji Tuhan yang Ia nyatakan kepada kita melalui Firman-Nya. Jika kita kehilangan pengharapan, maka kita akan semakin lemah dan putus asa. Perkatakanlah janji Tuhan dalam hidup kita agar kita semakin kuat di dalam pengharapan kita kepada Tuhan ( Roma 8:25 ).
  • Cari Kehendak Tuhan ( 1 Samuel 30:8 )Saat mengalami keadaan terjepit, Daud tidak mencari kehendak manusia. Namun Ia mencari baju efod (baju yang dipakai oleh seorang Imam pada waktu ia mencari kehendak Tuhan). Setelah Daud mengetahui apa kehendak Tuhan barulah ia bertindak melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Seringkali di saat keadaan terjepit dan negatif, kita lebih cenderung untuk melakukan apa yang sesuai keinginan kita, tetapi Daud mengajarkan kepada kita untuk mencari dan mengutamakan kehendak Tuhan (Matius 6:9).
  • Bertindak Sesuai dengan kehendak Tuhan ( Yosua 1:8 ) Setelah kita mengetahui kehendak Tuhan, maka kita harus bertindak sesuai dengan apa yang Tuhan maksudkan bagi kita. Pemazmur mengatakan, ketika kita memegang janji Tuhan dan bertindak di dalamnya, maka kita akan berhasil dan beruntung, meskipun keadaan yang kita hadapi saat ini seolah-olah tidak baik. Jangan kita jemu-jemu untuk melakukan apa yang baik, yang sesuai dengan kehendak Tuhan, karena pada saatnya nanti kita pasti akan menuai jika tidak menjadi lemah. ( Galatia 6:9 )
Hari-hari ini milikilah sikap yang positif saat menghadapi keadaan yang negatif. Sikap positif akan membawa kita kepada kemenangan dan keberhasilan sesuai dengan tujuan Tuhan bagi kita.


4.10.2009

Menjadi Milik-Nya

Diposting oleh GKPB - Garut

Sebagai kepala dari tubuh-Nya, Kristus telah mengasihi jemaat dengan memberikan diri-Nya untuk menderita, bahkan sampai menyerahkan nyawa-Nya dengan mati di kayu salib bagi Anda dan saya.Jika Kristus sebagai mempelai pria telah menyerahkan diri dan nyawa-Nya, bagaimanakah sikap kita sebagai jemaat yang dikasihi-Nya? Maukah kita menyatu dalam kasih-Nya dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya?

  • Berikan hidup kita kepada-Nya. Roma 12:1 berkata, supaya kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan. Semua orang pasti memiliki tubuh sehingga dapat dipersembahkan kepada Tuhan sebagai ibadah yang sejati, untuk mengimbangi Kristus, yang telah menyerahkan tubuh-Nya bagi Anda dan saya sebagai gereja-Nya. Penyerahan tubuh kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada-Nya, bisa saja mengalami aniaya dan sengsara, seperti yang telah dialami Rasul Paulus dan Timotius. Mungkin untuk zaman sekarang tantangan iman kita bukan lagi aniaya secara fisik, namun bisa saja berupa pencobaan, sakit-penyakit, dan sebagainya. Namun semuanya itu jangan sampai membuat iman kita menjadi goyah (1 Tesalonika 3:3-5).
  • Kasihi Dia dengan segenap hati. Karena kasih, Kristus telah menyerahkan diri-Nya atau nyawa-Nya bagi jemaat (1 Yohanes 3:16). Inilah bukti kasih Kristus sebagai suami terhadap istri-Nya sendiri. Pengorbanan-Nya tidak dilakukan dengan terpaksa, walaupun sebelum itu Ia harus mengalami siksaan yang sedemikian rupa. Yesaya 54:5-8 mengatakan, bahwa Dia yang telah menciptakan kita, yang adalah Penebus dan disebut Allah seluruh bumi, merupakan suami kita. Dia sangat mengasihi kita, walaupun seringkali kita sebagai istri-Nya telah berlaku tidak setia kepada-Nya (Yeremia 3:20). Semuanya rela ditanggung Yesus bagi kita karena kasih sayang dan kasih setia-Nya. Dia tidak mengirim duta atau utusan untuk menyelamatkan dan menebus kita dari dosa (Yesaya 63:7-9). Seharusnyalah kita mengasihi Dia sebagai suami dan setia kepada-Nya sebagai istri-Nya.
  • Setia menjadi milik-Nya. Menjadi milik Kristus hendaknya selalu menjadi kerinduan dari tiap-tiap pribadi kita karena Kristus bukan saja mengasihi jemaat tetapi lebih dari pada itu, seperti yang diucapkan Rasul Paulus, bahwa Kristus telah mengasihi aku dan telah menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20). Menjadi milik Kristus berarti menjadi istri-Nya, sehingga istri adalah milik dari suami dan suami adalah milik dari istri (1 Korintus 7:2). Selain itu, istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri tetapi suaminya dan sebaliknya (ayat 4). Berarti tubuh kita sudah menjadi hak dari suami, yaitu Tuhan Yesus.


Berbanggalah Anda dan saya yang penuh dengan dosa ini, namun Tuhan pilih dan tebus kita untuk menjadi milik-Nya dan diberi tanda sebagai kepunyaan-Nya. Kristus telah mengasihi kita dan telah menyerahkan diri-Nya bagi kita. Mari serahkan hidup kita hanya kepada Tuhan Yesus Kristus, sang mempelai pria surga, dengan kehidupan yang terjaga tiada cacat tercela dihadapan-Nya sebagai pengantin perempuan yaitu gereja-Nya.


27/09.2009

Memberikan Buah Sampai Akhir

Diposting oleh GKPB - Garut

Alkitab berkata, “Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur” (Lukas 6:44). Untuk itu jadilah orang Kristen yang memberikan buah. Mengapa? Diceritakan, “Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon kurma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.” (Keluaran 15:27) Pikirkan, betapa menyenangkan melihat sekumpulan pohon kurma bagi para pengembara di padang gurun. Sebab pohon ini tidak hanya memberikan tempat yang teduh, tetapi juga air, sebab pohon ini tumbuh di mana ada air.

Pemazmur juga menyatakan bahwa pohon ini masih saja berbuah pada masa tua, “Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar” (Mazmur 92:13-15). Pohon ini tidak pernah “pensiun”. Banyak dari kita yang ingin cepat-cepat pensiun berhenti dari segala aktivitas pelayanan atau tidak lagi menghasilkan buah bagi Tuhan. Mungkin kita berpikir bahwa sudah saatnya kita membeli sebuah vila kecil di tepi danau yang indah. Di sana kita akan merajut dan bersantai sampai ajal menjemput. Ini bukan tipe orang kristen yang berbuah. Kita harus tetap memberi buah dan tetap berkarya bagi Kristus, sampai Tuhan memanggil kita pulang ke rumah Bapa.

Sebagai orang percaya kita semua adalah pohon yang ditanam. Ada pohon yang tidak menghasilkan buah, ada pula yang menghasilkan buah tapi busuk, namun ada juga yang menghasilkan buah yang baik. Anda mau pilih yang mana? Pohon yang baik dengan buah yang baik pula, pasti akan memberikan kepuasan kepada majikannya.

Kitab Wahyu menceritakan gambaran kemenangan, “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka” (Wahyu 7:9). Orang-orang yang memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem adalah orang-orang yang telah lulus dari kesengsaraan. Kini mereka berdiri di hadapan Tuhan dengan daun palem di tangan. Inilah orang-orang yang berhasil menjaga iman mereka kepada Kristus dan memberikan buah dari hidupnya. Apakah Anda yakin akan berada di antara mereka suatu hari kelak?

Ingatlah akan peringatan Tuhan ini,” Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” (Matius 3:10). Jangan berpikir untuk pensiun melayani Tuhan! Marilah kita menjadi orang Kristen yang berkemenangan dan berbuah lebat sampai tua.

20.09.2009

Mendirikan Kehidupan yang Kokoh

Diposting oleh GKPB - Garut

Di tengah kesulitan hidup yang ada disekitar Anda dan saya bagaimanakah kita dapat mampu bertahan menghadapinya? Mampukah kita sebagai orang percaya bertahan, di saat orang lain tak mampu? Hanya bersama Kristus kita mampu menghadapi tantangan dan kesulitan dalam dunia ini. Namun sekedar percaya kepada Kristus tidaklah cukup. Kita harus memiliki fondasi yang kokoh di dalam diri-Nya. Bagaikan sebuah rumah yang mampu bertahan karena fondasinya kokoh di atas batu.

Prinsip pertama untuk memiliki fondasi yang kokoh dan mencapai keberhasilan yang benar dalam hidup orang percaya adalah melalui pembacaan firman Tuhan setiap hari, merenungkan firman itu siang dan malam. Prinsip ini jugalah yang disampaikan Tuhan kepada Yosua saat ia dipercaya menggantikan Musa memimpin bangsa Israel : “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:8). Karena melakukan perintah Tuhan inilah, Yosua akhirnya berhasil memasuki tanah perjanjian. Firman Tuhan akan memenuhi setiap kebutuhan kita dan membantu kita berdiri tetap kuat dalam masa-masa kesulitan. Membaca firman-Nya setiap hari serta merenungkannya membuat hidup kita makin berkenan kepada Tuhan karena kita telah membentuk suatu pola hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Tidak ada seorang pun sanggup membangun rumah yang tahan terhadap amukan badai tanpa terlebih dahulu membuat fondasi yang kuat bagi rumah itu. Masing-masing kita merupakan bangunan rohani. Tanpa fondasi rohani yang benar dan kokoh, bangunan itu tidak akan mampu bertahan dan akan mudah runtuh bila badai kehidupan datang menerjang. Jadi bangunan rohani kita juga harus dibangun di atas dasar firman Tuhan sebagai fondasinya. “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25).

Prinsip kedua adalah melalui doa. Tanpa doa orang Kristen tak akan dapat mempertahankan kehidupan kekristenannya. Doa adalah cara untuk mempertahankan kekuatan dan mencapai kemenangan dari serangan musuh yaitu si Iblis. Doa bagaikan nafas kehidupan bagi orang percaya. Seorang filsuf mengatakan, “Berdoa adalah perilaku dari jiwa yang paling luhur dan dalam, dan akan tetap demikian selama dikehendaki oleh Tuhan.” Karena itu “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya. ..” (Efesus 6:18b).


13.09.2009

Roh yang Penuh Kebenaran

Diposting oleh GKPB - Garut

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” (Yohanes 16: 8-13).

“kebenaran” dalam konteks ini memiliki pengertian dari kata “dikaiosune” (dalam bahasa Ibrani dipakai istilah “tsedhaqah”; “tsedheq”). Seseorang dianggap benar apabila dia berlaku adil dengan melakukan sedekah (dari kata “tsedhaqah”), kebajikan (amal). Jadi makna “kebenaran” bukan sekedar suatu pemahaman atau konsep tentang “kebenaran”. Makna “kebenaran” (dikaiosune) adalah suatu tindakan yang didasari oleh sikap yang adil dengan memberlakukan kasih kepada sesama.

Demikian pula makna kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus bukan sekedar suatu pengajaran yang penuh hikmat dan sangat logis secara filosofis atau teologis. Lebih dari pada itu, kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus pada hakikatnya diwujudkan dengan pengorbananhidup-Nya, yaitu melalui karya-Nya di atas kayu salib bagi Anda dan saya. Kristus menyatakan seluruh kebenaran Allah melalui hidup-Nya. Itulah sebabnya kenaikan Kristus kepada Bapa telah merangkumkan secara sempurna seluruh kebenaran Allah yang telah dinyatakan dalam hidup dan karya-Nya.

Karya Roh Kudus selaku Roh Penghibur bukan sekedarmengingatkan manusia tentang konsep-konsep kebenaran teologis atau filosofis sebagaimana yang telah diajarkan oleh Kristus. Tetapi karya Roh Kudus mengingatkan seluruh umat manusia bahwa di dalam seluruh hidup Kristus mulai dari perendahan sampai kemuliaan-Nya pada hakikatnya identik dengan kebenaran dan keadilan Allah. Sehingga melalui karya keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus tersebut sungguh-sungguh akan memampukan umat percaya untuk melakukan karya kasih Kristus secara konkret dalan kehidupan nyata. Sebab makna kebenaran bukan hanya sekedar dihayati, tetapi juga diberlakukan sebagai pola hidup yang dilandasi oleh nilai-nilai kasih dan keadilan.

Roh Allah adalah Roh Kebenaran dan karenanya sewaktu Roh Kudus bekerja maka Ia menarik orang untuk mampu mengerti firman Tuhan. Roh Kudus sudah mewahyukan Alkitab, dan karena itu tidak mungkin Roh Kudus membawa kita melawan Alkitab. Sebaliknya justru Roh Kudus akan membawa kita semakin mengenal firman-Nya. Orang yang senantiasa dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mencintai firman Tuhan, ia membaca dan merenungkannya, ia menyimpannya dalam hati dan melakukannnya dalam kehidupan sehari-harinya (Mazmur 119). Orang yang dipenuhi Roh Kudus tentu akan dipenuhi oleh cinta kasih dan rindu untuk mengerti kebenaran di dalam Kristus. Keinginan untuk mau masuk ke dalam kebenaran-Nya inilah yang menjadi buah pekerjaan Roh Kudus.

Marilah kita hidup di dalam integritas Kristus, kebenaran dan bertumbuh di dalam Dia. Jika kita hidup di dalam Roh Kudus, maka kita akan hidup di dalam rencana dan kebenaran Tuhan (Roma 8:10).

06.09.2009

Roh yang Misioner

Diposting oleh GKPB - Garut

Sebagai umat Tuhan, sering kali kita lalai akan tugas kita yang paling penting. Kita berpikir apabila telah menghabiskan waktu berjam-jam melayani di gereja itu sudah cukup. Padahal ada suatu tugas yang sangat mendasar, yang harus kita lakukan, yakni pergi menjadi saksi Kristus. Menyaksikan kepada dunia sekitar kita, apa yang Yesus telah perbuat melalui diri kita. Menyaksikan karya dan kasih Kristus kepada orang-orang yang berada di luar gereja.

Ada seorang bernama Peter Stam, ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersaksi bagi Kristus. Pada suatu hari ia masuk ke dalam sebuah lift. Dalam lift itu Peter Stam hanya berdua dengan wanita petugas lift itu. Peter Stam berkata kepada petugas lift itu; “Kiranya perjalanan Anda yang terakhir di dalam hidup ini adalah naik (menuju ke sorga), bukan turun (menuju ke neraka)”. Petugas itu kaget mendengar perkataan itu. Sebagai jawaban, Peter Stam hanya memberikan senyuman manis dan berkata, “Sekarang saya berumur 70 tahun dan tidak lama lagi saya akan bertemu dengan Juruselamat saya. Saya harap saya akan bertemu dengan Anda nanti di sana”. Inilah kesaksian yang diberikan dengan berani oleh Peter Stam. Kesaksian yang singkat, namun sangat menyentuh hati seseorang. Anda dan saya tentu dapat melakukannya juga.

Tugas kesaksian adalah “Amanat Agung” Yesus Kristus. Kata ‘kesaksian’ berasal dari kata : marturia atau martyfrein (Bahasa Yunani). Marturia berasal dari kata martus, artinya saksi. Dalam dunia Yunani (kuno), kata martus secara khusus digunakan pada bidang hukum yakni, saksi solemnitas dan saksi prosesuil. Tugas saksi terutama saksi prosesuil adalah memberitahu hakim tentang apa yang telah terjadi, dengan tidak menambahkan atau mengurangkan sesuatu. Dengan kata lain, saksi harus mengatakan kebenaran. Dan apa yang dinyatakan oleh saksi, itulah yang disebut dengan kesaksian. Dalam Perjanjian Baru, kata “marturia” atau “martyrein” dipakai secara khusus bagi saksi-saksi Kristus, yakni para murid-murid Yesus, serta setiap orang percaya.

Yesus tidak memanggil kita untuk mati bagi-Nya, hal ini tidak ada gunanya, sia-sia! Namun. Yesus memanggil kita untuk hidup bagi-Nya, memberitakan kabar baik dari-Nya. Kita memuji, menyembah dan memuliakan Tuhan karena Roh Kudus-Nya diberikan menyertai kita. Karena kita mengenal Roh Kudus-Nya, maka Anda dan saya dipanggil-Nya pula untuk menjadi saksi bagi dunia sekitar kita.

Bukankah kita dipanggil untuk menjadi penyalur berkat? Kita diberi kuasa untuk menjadi saksi bagi Kristus (Kisah Para Rasul.1:8). Karena itu, nyatakan kebaikan Tuhan dan muliakan Dia! Sehingga kita benar-benar menjadi seorang saksi Kristus yang memenangkan banyak jiwa bagi Dia. “Hendaklah kamu kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18), berilah diri kita dipimpin oleh Roh secara total sehingga perkataan dan perbuatan kita memuliakan Tuhan dan menjadi saksi Kristus bagi orang di sekitar kita.


30.08.2009

Kasih Agape

Diposting oleh GKPB - Garut

Kasih agape adalah kasih Allah. Kasih agape bekerja untuk memberikan kebaikan bagi orang lain tanpa memperdulikan apa yang dirasakannya sendiri. Kasih agape tidak bisa diterjemahkan sebagai suatu perasaan atau perhatian. Yesus menunjukkan kasih ini saat Ia memikul salib dan mati bagi Anda dan saya, tanpa memperdulikan apa yang Ia sendiri rasakan saat itu. Dalam kitab Injil Yesus berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39; Markus 14:36; Lukas 22:41-43; Yohanes 18:11). Kasih Tuhan bagi kita adalah kasih agape. Dia rela mati bagi kita, bahkan ketika kita masih berdosa. Kasih yang Tuhan nyatakan ini adalah kasih yang tidak mengharapkan balasan.

Bisa mengasihi orang-orang di sekitar kita bahkan musuh-musuh kita, dengan kasih agape. Jika mereka lapar, kita bisa memberi mereka makan; jika mereka haus, kita bisa memberi mereka minum (Roma 12:20-21). Kita bisa memilih untuk berusaha bagi kebaikan orang lain tanpa memperdulikan perasaan kita sendiri.

Adalah ungkapan kasih yang terbesar yang pernah datang ke dunia, namun tidak pernah tercatat bahwa Yesus pernah hanya berkata-kata saja, "Aku mengasihi kamu". Mengapa? Karena 95 persen dari kasih secara keseluruhan yang dilakukan Yesus bukanlah sekedar kata-kata namun Ia berikan dengan tindakan nyata. Yesus tidak mengasihi dengan kata-kata saja tetapi dengan perbuatan dan kebenaran (1 Yohanes 3:18). Bila perbuatan Anda bertentangan dengan kata-kata Anda, apakah yang bisa orang percayai, kata-kata atau perbuatan Anda? Perbuatan Anda, tentunya! Kamus Vine Expository menuliskan bahwa: "Kasih hanya bisa dikenal dari perbuatan yang dihasilkannya."

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16). Kini dengan kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita, Ia memampukan kita untuk menyatakan kasih dengan benar. Roh Kudus memiliki sifat kasih seperti Allah. Roh yang penuh kasih ini membantu kita untuk mengasihi Tuhan, mengasihi diri sendiri, dan mengasihi sesama dengan sempurna. Buah dari Roh Kudus adalah kasih agape, kasih yang hadir dalam hidup kita karena kehadiran Roh Allah. Kasih yang bukan merupakan hasil usaha diri sendiri tetapi merupakan hasil dari kehadiran dan persekutuan dengan Roh Allah.

Kasih harus menjadi dasar dan mendahului segalanya yang kita perbuat!
1 Korintus 13:1–3 menjelaskan bahwa sekalipun kita memiliki banyak karunia roh namun itu semua sia-sia jika tidak didasari oleh kasih. Tuhan menginginkan agar kita mengasihi Dia lebih dari segalanya dan mengasihi sesama kita dengan sepenuh hati.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan...”(Galatia 5:22). Apakah Anda hidup dalam kasih dan percaya akan kuasa Roh Kudus untuk menjadikan semua hal ini menjadi nyata? Jadikanlah senantiasa kasih sebagai tujuan tertinggi Anda dan garis akhir yang paling ingin Anda raih (1 Korintus 14:1).


23.08.2009

MENJADI PRIBADI YANG PENUH

Diposting oleh GKPB - Garut

Ketika Yesus mengajar di Kapernaum orang-orang di sana merasakan sesuatu yang berbeda (Lukas 4:32). Orang-orang di Kapernaum mengakui dan merasakan pengajaran Yesus berbeda dengan apa yang telah mereka terima dari ahli-ahli Taurat, Yesus mengajar dengan “kuasa”(dunamis) (Markus 1: 22, Lukas 4: 32). Kuasa yang ada pada Yesus tidak dimiliki oleh ahli-ahli Taurat. Yesus terlahir dengan penuh kuasa, sebelum masa pelayanan-Nya, Ia bertumbuh dengan penuh hikmat, makin dikasihi Allah dan manusia (Lukas 2: 52). Penegasan kuasa Allah pada diri Yesus makin jelas setelah Dia dibaptis dan Roh Allah turun atas-Nya. (Matius 3: 16).
Dalam Kisah Para Rasul 2: 14-40 diceritakan tentang khotbah pertama Petrus dan Alkitab mencatat 3000 orang bertobat. Jika melihat latar belakang Petrus kita seakan tidak percaya. Dalam keempat Inji pada saat itu Petrus dikenal dengan pribadi yang cepat bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, ia pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, pernah berniat pula untuk kembali ke pekerjaan semula yaitu sebagai nelayan ketika Yesus mati. Apa yang membuat Petrus berubah demikian drastis ? Karena Petrus memiliki kuasa Roh Kudus, kuasa (dunamis) untuk menyatakan kebenaran, kuasa untuk memberitakan Yesus. Bagaimana kita dapat memiliki kuasa itu? Dari Kisah Para Rasul 2: 14-40 tentang Petrus ada beberapa kebenaran yang dapat kita gali bagaimana menjadi pribadi yang penuh kuasa.
  • Pandangannya tertuju pada rencana Allah. Latar belakang Petrus bukanlah alasan untuk menghalangi kuasa Allah bekerja. Petrus dalam Kisah Para Rasul adalah pribadi yang sama dengan Petrus dalam keempat Injil, tetapi dengan pandangan yang berbeda. Dalam ke empat Injil Petrus dikenal sebagai sosok yang memiliki pandangan tertuju pada apa yang dapat dipandang manusia pada umumnya, ia belum dapat melihat rencana Allah. Hal tersebut dapat terlihat ketika Yesus menyampaikan bahwa waktu-Nya sudah dekat dan Dia akan mendapatkan aniaya, Petrus menanggapi dengan pandangan manusia, ia tidak bisa melihat rencana Allah. Pengalamannya bersama Yesus telah mengubahkannya, Yesus telah membukakan selubung matanya, sehingga pandangannya tertuju kepada Allah.
  • Ia percaya pada Firman Tuhan. Dalam khotbahnya Petrus mengutip Yoel 2: 28-32, artinya Petrus hidup merenungkan Firman. Dalam Yoel 2: 28-32 berisi tentang nubuatan tentang pencurahan Roh Kudus, Petrus percaya bahwa apa yang ia alami dengan murid-murid yang lain merupakan penggenapan dari nubuatan itu.
  • Ia berani bersaksi tentang Kristus. Ketika Yesus ditangkap, Petrus dan murid-murid yang lain takut dan bersembunyi. Namun, ketika pola pikirnya diubahkan ia menjadi percaya. Ketika dia percaya, keberanian muncul dalam dirinya. Dia berdiri berkhotbah menyampaikan siapa Yesus, orang-orang takjub dan 3000 orang bertobat.
  • Ia dipenuhi Roh Kudus. Petrus penuh kuasa karena dia dipenuhi Roh Kudus, ini merupakan syarat utama untuk memiliki kuasa Kristus, yaitu kita harus dipenuhi oleh Roh Kudus. Petrus dipenuhi oleh Roh Kudus karena ia mengarahkan pandangannya pada rencana Allah, dia percaya pada setiap firman yang telah ia terima, berani menyaksikan Kristus.
Jika anda rindu menjadi pribadi yang penuh kuasa (dunamis) Roh Kudus berikan kebebasan Roh Kudus-Nya berkarya dalam diri Anda.

16.08.2009

Roh yang Penuh Kebenaran

Diposting oleh GKPB - Garut

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” (Yohanes 16: 8-13).

“kebenaran” dalam konteks ini memiliki pengertian dari kata “dikaiosune” (dalam bahasa Ibrani dipakai istilah “tsedhaqah”; “tsedheq”). Seseorang dianggap benar apabila dia berlaku adil dengan melakukan sedekah (dari kata “tsedhaqah”), kebajikan (amal). Jadi makna “kebenaran” bukan sekedar suatu pemahaman atau konsep tentang “kebenaran”. Makna “kebenaran” (dikaiosune) adalah suatu tindakan yang didasari oleh sikap yang adil dengan memberlakukan kasih kepada sesama.

Demikian pula makna kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus bukan sekedar suatu pengajaran yang penuh hikmat dan sangat logis secara filosofis atau teologis. Lebih dari pada itu, kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus pada hakikatnya diwujudkan dengan pengorbananhidup-Nya, yaitu melalui karya-Nya di atas kayu salib bagi Anda dan saya. Kristus menyatakan seluruh kebenaran Allah melalui hidup-Nya. Itulah sebabnya kenaikan Kristus kepada Bapa telah merangkumkan secara sempurna seluruh kebenaran Allah yang telah dinyatakan dalam hidup dan karya-Nya.

Karya Roh Kudus selaku Roh Penghibur bukan sekedarmengingatkan manusia tentang konsep-konsep kebenaran teologis atau filosofis sebagaimana yang telah diajarkan oleh Kristus. Tetapi karya Roh Kudus mengingatkan seluruh umat manusia bahwa di dalam seluruh hidup Kristus mulai dari perendahan sampai kemuliaan-Nya pada hakikatnya identik dengan kebenaran dan keadilan Allah. Sehingga melalui karya keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus tersebut sungguh-sungguh akan memampukan umat percaya untuk melakukan karya kasih Kristus secara konkret dalan kehidupan nyata. Sebab makna kebenaran bukan hanya sekedar dihayati, tetapi juga diberlakukan sebagai pola hidup yang dilandasi oleh nilai-nilai kasih dan keadilan.

Roh Allah adalah Roh Kebenaran dan karenanya sewaktu Roh Kudus bekerja maka Ia menarik orang untuk mampu mengerti firman Tuhan. Roh Kudus sudah mewahyukan Alkitab, dan karena itu tidak mungkin Roh Kudus membawa kita melawan Alkitab. Sebaliknya justru Roh Kudus akan membawa kita semakin mengenal firman-Nya. Orang yang senantiasa dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mencintai firman Tuhan, ia membaca dan merenungkannya, ia menyimpannya dalam hati dan melakukannnya dalam kehidupan sehari-harinya (Mazmur 119). Orang yang dipenuhi Roh Kudus tentu akan dipenuhi oleh cinta kasih dan rindu untuk mengerti kebenaran di dalam Kristus. Keinginan untuk mau masuk ke dalam kebenaran-Nya inilah yang menjadi buah pekerjaan Roh Kudus.

Marilah kita hidup di dalam integritas Kristus, kebenaran dan bertumbuh di dalam Dia. Jika kita hidup di dalam Roh Kudus, maka kita akan hidup di dalam rencana dan kebenaran Tuhan (Roma 8:10). 09.08.2009

The Holy Spirit : Roh yang Kudus

Diposting oleh GKPB - Garut

Roh Kudus merupakan Pribadi ke tiga dari Allah Tritunggal, yang menggantikan Yesus Kristus untuk menyertai umat-Nya di dunia. Roh Kudus datang ke dunia sepuluh hari setelah Yesus kembali ke Sorga, pada hari Pentakosta. Yesus Kristus mengutus Roh Kudus agar tinggal di dalam hati orang-orang percaya. Roh Kudus tidak mempunyai tubuh bagi diri-Nya, kecuali orang-orang yang ditebus oleh Yesus Kristus menyerahkan tubuhnya untuk menjadi tempat kediaman Roh itu (I Kor. 6:19-20) yaitu jemaat atau gereja-Nya. Roh Kudus adalah pribadi Allah yang kudus.

Kita yang telah percaya kepada Kristus menjadi bagian di dalam tubuh-Nya yaitu gereja-Nya. Melalui Roh Kudus kita dijadikan kudus atau dipisahkan untuk hidup dalam kebenaran untuk memuliakan Tuhan. Anda dan saya dikuduskan dengan tujuan untuk bersekutu dengan Allah. Alkitab berkata “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat. 5:8).

Kata “kudus” berasal dari akar kata qadosy (Ibrani) dan hagios (Yunani). Yang memiliki pengertian "terpisah", atau "dikhususkan" atau "terpotong dari", digunakan terhadap keadaan terpisahnya suatu benda atau seseorang agar Tuhan dapat memakainya. Dengan demikian kekudusan dapat didefenisikan sebagai sesuatu yang terpisah dari yang lain (dari dosa) dan dipersembahkan secara khusus kepada Allah untuk memuliakan dan melayaniNya.

Roh Kudus sebagai Pribadi Allah yang kudus, secara khusus Ia memiliki peranan yaitu melakukan pengudusan hidup Anda dan saya. Yaitu adanya pemisahan yang menghubungkan kita dengan Tuhan kepada kedudukan istimewa, yaitu persatuan atau persekutuan dengan-Nya. Pengudusan dalam artian ini menegaskan tentang adanya pemisahan kepada Allah karena adanya pembenaran, penyucian atau pengudusan hidup dengan kualitas rohani, etika serta moral yang berlandaskan hubungan dengan Allah dan ketaatan pada firman Tuhan.

Allah menguduskan kita sewaktu kita bertobat. Tetapi Ia juga menguduskan kita melalui proses-Nya hari demi hari. “Manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Demikian kesaksian Paulusdi dalam 2 Korintus 4:16. Setiap hari Allah memperbarui dan memperbaiki sifat dasar kita melalui karya Roh Kudus. (1 Petrus 1:2). Roh Kudus mendorong kita untuk taat kepada Kristus, hidup berkemenangan atas pencobaan, perubahan karakter dan mempersembahkan hidup untuk melayani Allah. Dalam hal ini walau Roh Kudus mengerjakannya bagi kita, namun kehidupan yang dikuduskan Allah bukanlah kehidupan yang pasif. Melainkan kehidupan yang terus menerus didorong untuk melakukan ketaatan sehingga membawa kita kepada kemenangan atas pencobaan dan pada akhirnya mengasilkan buah pengudusan. “Tetapi sekarang setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan…” (Roma 6:22).

Sebab itu marilah kita mengerjakan bagian kita, yaitu berjalan di dalam ketaatan dan bertumbuh dalam kekudusan sehingga kita dapat menjadi perabot-perabot yang mulia, yang menguduskan namaNya. Sesuai dengan perintah Firman Allah dalamPetrus1:14–16, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudusdi dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis:Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 02.08.2009